Fadhilah Puasa

“Segala amal perbuatan manusia adalah hak miliknya, kecuali puasa, sebab puasa adalah bagi-Ku, dan Akulah yang membalasnya.” Hadits Qudsi.

Puasa adalah amal ibadah yang bersifat rahasia, didalamnya tiada unsur popularitas dan yang tahu pasti hanya Allah semata, jauh berbeda dengan amal-amal ibadah lainnya. Oleh karena itu, maka pahala puasa diprioritaskan langsung oleh Allah Swt yang berhak mengaturnya.

Fadhilah PuasaBerhubungan dengan itu Nabi Saw bersabda, ”Adalah ketika tiba hari kiamat, nampaklah suatu jamaah yang melayang-layang, terbang dengan sayap-sayapnya seperti burung diatas pagar-pagar surga, lalu petugas pengamanan di surga bertanya, ‘Maaf kalau boleh aku tahu, siapakah sebenarnya anda-anda ini?’ Jawab mereka, ‘Kami adalah jamaah dari umat Muhammad Saw.’ ‘Lalu tolong beritahu aku, bagaimana dengan hisab amal anda?’ Jawab mereka, ‘LAA, kami tidak terkena proses hisab, kami lolos dari hisab.’ ‘Kemudian bagaimana dengan lintasan shirat anda?’ Jawab mereka, ‘Tidak, kami tanpa melintasi shirat.’ Petugas surga dibuat tercengang oleh mereka, lalu bertanya, ‘Nah, kenapa anda sampai pada tingkat kedudukan tertinggi ini?’ Jawab mereka, ‘Kami dulu sewaktu hidup di dunia beramal dan taat beribadah kepada Allah penuh rahasia, maksudnya tanpa pamrih, tanpa dorongan popularitas, demikian pula kami di alam kekal ini, diantarkan ke surga secara rahasia.’” (Zubdatul wa’idhin).

Dalam suatu hadits Nabi Saw bersabda, ”Lima perkara diberikan kepada umatku, tidak pernah diberikan kepada umat sebelumnya yaitu:

  1. Allah memandang umat ini penuh rahmat pada malam pertama Ramadhan, padahal siapa yang dipandang penuh rahmat oleh-Nya, maka Allah tidak bakal menyiksa selama-lamanya.
  2. Para malaikat beristighfar bagi umat ini, atas perintah Allah Swt.
  3. Sungguh, bau mulut ketika berpuasa, disisi Allah diganti dengan bau harum melebihi minyak kasturi.
  4. Allah berfirman menyuruh surga agar menghias diri dan beruntunglah bagi hamba-Ku yang mukmin, sebab mereka adalah kekasih-Ku.
  5. Allah mengampuni seluruh umat ini (umat Nabi Muhammad Saw).

Dan berkaitan dengan hal ini, hadits dari Abu Hurairah, Nabi Saw bersabda, “Siapa berpuasa pada bulan Ramadhan, penuh keimanan dan keikhlasan, pasti diampuni dosa-dosa terdahulu baginya.” Dari Jabir, Rasulullah Saw bersabda,” Sungguh Allah Swt menciptakan seorang malaikat berwajah empat, jarak antara wajah satu dengan lainnya diperkirakan sejauh 1000 tahun perjalanan. Maka dengan wajah satu ia bersujud hingga kiamat, seraya bertasbih, ‘Maha Suci Engkau, alangkah indahnya Engkau.’ Dan dengan wajah satunya lagi ia pandang neraka Jahannam, seraya berguman, ’Celaka bagi orang yang terjerumus ke dalamnya.’ Dan dengan wajah lainnya ia tatap surga dan katanya, ‘Beruntunglah orang yang menjadi penghuninya.’ Dan dengan wajah terakhir, ia pandang ‘Arasy Allah Yang Maha Pemurah, seraya berdoa, ‘Ya Allah, kasihanilah umat Muhammad yang tengah berpuasa Ramadhan, dan janganlah Engkau menyiksanya.’” (dikutip dari kitab Zuhratur Riyadh).

Asal Usul Diwajibkannya Puasa

Bahwasannya Allah Swt setelah menciptakan akal berfirman, ”Hai akal menghadaplah kamu kepadaku,” maka dengan segera akal menghadap-Nya. Lalu Allah menyuruhnya, “Mundurlah hai akal,” maka ia segera mundur mentaati perintah Allah Swt. Kemudian Allah bertanya, “Hai akal, siapakah sebenarnya kamu dan Aku ini?” Jawabnya, “Ya Allah, Engkaulah Tuhan sesembahanku, sedang aku hanyalah seorang hamba-Mu yang lemah.” Akhirnya ia dipuji oleh Allah dengan firman-Nya, “Hai akal, tiada makhluk yang Kuciptakan lebih mulia dibandingkan kamu.” Kemudian Allah ciptakan pula nafsu, dan ketika ia disuruh menghadap Allah, tiada sepatah katapun jawaban darinya, bahkan ketika ditanya, “Siapa kamu, dan siapa Aku?” Jawabnya, “Aku ya aku, Kamu ya Kamu!” Maka dengan demikian ia patut menjalani hukuman, akibat tidak tahu diri, ia disiksa dilemparkan ke dalam kobaran api neraka Jahannam selama 100 tahun, dan setelah habis masa hukumannya, ia dikeluarkan dari neraka. Lalu ditanya, “Siapakah sebenarnya engkau, dan siapa pula Aku?” Jawabnya tiada berbeda dengan dulu, “Aku ya aku, Engkau ya Engkau.” Akhirnya ia dihukum lagi, tapi kali ini ia dilemparkan ke dalam neraka lapar selama 100 tahun, sehabis masa hukumannya ia ditanya lagi tentang diri dan penciptanya, maka berkat hukuman lapar (puasa) ia mengakui nahwa dirinya adalah seorang hamba yang lemah, dan Allah Tuhannya, itulah sebabnya Allah mewajibkan puasa baginya.” (Misykah).

Rahasia Puasa Sebulan Penuh

Setelah ulama menceritakan tentang rahasia atau hikmah diwajibkannya puasa sebulan penuh dalam bulan Ramadhan itu adalah bermula dari peristiwa yang cukup membuat bingung bapak Adam dan ibu Hawa. Yaitu ketika beliau bermukim di surga, melanggar larangan Allah dengan makan buah Khuldi, waktu itu buah itu pun terhenti di kerongkongannya selama satu bulan penuh, akhirnya ia bertaubat, dan sesudah itu Allah mewajibkannya puasa satu bulan penuh, baik di siang dan malam harinya. Sebab kelezatan dunia itu 4 macam, yaitu: makan, minum, bersetubuh, dan tidur nyenyak, yang semua itu sebagai penghalang sampainya (komunikasi) seorang hamba terhadap Tuhannya. Adapun kewajiban bagi Nabi Muhammad beserta umatnya puasa di siang hari Ramadhan, pada malam harinya boleh berbuka, adalah merupakan kemuliaan dan kemurahan dari Allah Swt, dan hal ini wajib disyukuri oleh seluruh umat Islam.

Durratun Nashihin